Search
Close this search box.
Perkasa Sarana Utama | Sewa Alat Berat Sewa Excavator
  1. Home
  2. »
  3. Alat Berat
  4. »
  5. 7 Kesalahan Operator Alat Berat yang Sering Terjadi dan Dampaknya pada Proyek
7 Kesalahan Operator Alat Berat yang Sering Terjadi dan Dampaknya pada Proyek

7 Kesalahan Operator Alat Berat yang Sering Terjadi dan Dampaknya pada Proyek

Dalam dunia konstruksi, alat berat menjadi tulang punggung percepatan pekerjaan. Namun, secanggih apapun alat yang digunakan, keberhasilan proyek tetap sangat bergantung pada keterampilan operator. Menurut data OSHA (Occupational Safety and Health Administration), human error menyumbang lebih dari 20% kecelakaan kerja di sektor konstruksi. Ini menunjukkan betapa pentingnya peran operator dalam menjaga kelancaran dan keamanan proyek.

Sayangnya, masih banyak kesalahan yang sering dilakukan oleh operator alat berat di lapangan, baik karena kurangnya pengalaman, terburu-buru, atau tidak mematuhi prosedur. Kesalahan-kesalahan ini bisa berakibat fatal, mulai dari kerusakan unit, meningkatnya biaya perbaikan, keterlambatan proyek, hingga ancaman keselamatan kerja.

Artikel ini akan membahas kesalahan operator alat berat yang paling sering terjadi, dampaknya pada proyek, serta solusi pencegahan agar risiko bisa diminimalkan.

1. Tidak Mematuhi SOP dan Safety Regulation

Salah satu kesalahan paling mendasar adalah mengabaikan prosedur standar operasional (SOP) dan aturan keselamatan. Misalnya, operator tidak menggunakan alat pelindung diri (APD), langsung mematikan mesin tanpa waktu idle, atau bahkan mengabaikan buku manual operasi. Hal-hal kecil seperti ini jika dibiarkan bisa memperpendek umur mesin sekaligus meningkatkan risiko kecelakaan di lapangan.

2. Mengoperasikan Alat di Luar Kapasitas

Kesalahan lain yang sering ditemukan yaitu memaksa alat bekerja di luar batas kemampuannya. Contohnya, melakukan overloading (memaksakan beban melebihi kapasitas), menggunakan alat di medan yang tidak stabil, atau memilih mode kerja yang salah. Praktik ini bukan hanya membahayakan operator, tetapi juga dapat merusak komponen penting seperti hidrolik, gearbox, hingga sistem rangka.

3. Lalai Melakukan Pemeriksaan Harian

Sebelum alat berat dioperasikan, seharusnya operator melakukan pengecekan harian rutin (P2H) seperti oli, filter, tekanan hidrolik, serta kondisi ban atau track. Namun, banyak operator yang melewatkan tahap penting ini. Akibatnya, kerusakan kecil yang tidak terdeteksi sejak awal bisa berkembang menjadi masalah besar yang memicu downtime dan biaya perbaikan tinggi.

4. Kurang Terampil dan Tidak Mengikuti Pelatihan

Operator yang kurang berpengalaman dan tidak bersertifikat resmi SIO (Surat Izin Operator) cenderung melakukan kesalahan teknis, misalnya beralih dari gerakan maju ke mundur dengan kecepatan tinggi, pengereman mendadak, atau tidak memahami fitur teknologi terbaru pada unit modern. Tanpa pelatihan berkala, operator akan kesulitan mengoptimalkan alat sesuai fungsinya, bahkan bisa membahayakan pekerja lain di sekitar.

5. Human Error dalam Komunikasi Lapangan

Kesalahan komunikasi sering terjadi di lapangan, terutama ketika operator tidak berkoordinasi dengan pekerja lain seperti rigger atau spotter. Situasi ini bisa memicu kesalahan penempatan material, tabrakan, hingga kecelakaan serius. Padahal, komunikasi yang jelas dan konsisten adalah kunci utama dalam pekerjaan proyek skala besar.

6. Penyalahgunaan dan Perawatan yang Salah

Tidak jarang alat berat digunakan tidak sesuai dengan fungsinya. Misalnya, excavator dipaksa mengangkat material yang seharusnya ditangani crane. Selain itu, ada pula operator atau tim proyek yang menunda pemeliharaan rutin, bahkan menggunakan sparepart murah yang kualitasnya tidak terjamin. Praktik ini mungkin terlihat menghemat biaya, namun justru akan menimbulkan kerugian lebih besar dalam jangka panjang.

7. Mengabaikan Soft Skill dan Aspek Keselamatan

Selain kemampuan teknis, operator juga membutuhkan soft skill seperti kesabaran, kehati-hatian, dan kemampuan bekerja sama. Sayangnya, tidak semua operator memperhatikan hal ini. Operator yang ceroboh atau terburu-buru sering kali mengabaikan prosedur kerja aman, sehingga meningkatkan risiko kecelakaan yang sebenarnya bisa dicegah.

Dampak Kesalahan Operator pada Proyek

Lantas dari kesalahan-kesalahan di atas, apakah ada dampaknya pada proyek? Ya, tentu saja ada. Beberapa dampaknya antara lain:

1. Downtime dan Kerugian Biaya

Setiap kali alat berat berhenti beroperasi karena kerusakan, proyek otomatis mengalami penundaan. Menurut laporan Global Construction Equipment Market (2023), downtime dapat menambah biaya proyek hingga 20–30%. Ini jelas merugikan kontraktor maupun pemilik proyek.

2. Ancaman Keselamatan dan Kecelakaan Kerja

Kesalahan operator tidak hanya merusak alat, tetapi juga mengancam keselamatan pekerja di sekitar. Human error menjadi salah satu faktor utama kecelakaan di proyek konstruksi, mulai dari jatuhnya material, tabrakan, hingga cedera serius pada pekerja.

3. Kerusakan Alat Berat Lebih Cepat

Penggunaan alat di luar kapasitas atau mengabaikan pemeliharaan rutin membuat komponen cepat aus. Dampaknya, umur pakai alat berkurang, biaya perawatan meningkat, dan produktivitas proyek pun menurun.

4. Penurunan Produktivitas Proyek

Kesalahan berulang yang dilakukan operator memperlambat progres kerja. Proyek bisa molor dari jadwal yang ditetapkan, bahkan mengganggu reputasi kontraktor di mata klien maupun stakeholder.

Cara Mencegah Kesalahan Operator Alat Berat

Kesalahan operator alat berat memang tidak bisa kita hindari namun bisa dicegah sedini mungkin. Terdapat beberapa cara mencegah agar operator alat berat tidak melakukan kesalahan dan proyek tetap berjalan dengan lancar, simak dibawah ini:

  • Pelatihan dan Sertifikasi Operator

Memberikan pelatihan berkala sangat penting untuk memastikan operator memahami SOP, fitur teknologi terbaru, serta teknik kerja yang aman dan efisien.

  • Safety Briefing dan Supervisi Lapangan

Briefing sebelum pekerjaan dimulai akan mengurangi risiko miskomunikasi. Supervisi juga penting agar operator tetap disiplin mengikuti aturan di lapangan.

  • Preventive Maintenance Alat Berat

Pemeriksaan rutin sebelum dan sesudah penggunaan membantu mendeteksi masalah sejak dini. Dengan begitu, kerusakan besar yang merugikan bisa dicegah.

  • Memilih Penyedia Sewa dengan Operator Profesional

Solusi praktis adalah bekerja sama dengan penyedia sewa alat berat yang memiliki operator bersertifikat, berpengalaman, serta paham standar keselamatan kerja.

Cari Sewa Alat Berat Sekaligus dengan Operator Berpengalaman? PT Perkasa Sarana Utama (PSU) Solusinya!

Kesalahan operator alat berat bisa berdampak besar terhadap kelancaran proyek, mulai dari downtime, biaya tambahan, hingga risiko kecelakaan kerja. Oleh karena itu, penting bagi kontraktor dan perusahaan untuk memastikan operator selalu mengikuti SOP, menjalani pelatihan, serta menjaga komunikasi yang baik di lapangan.

PT Perkasa Sarana Utama (PSU) hadir sebagai solusi kebutuhan alat berat sekaligus operator yang berpengalaman. PSU menyediakan unit yang dirawat secara berkala, operator bersertifikat dan berpengalaman, serta dukungan mekanik 24/7 untuk mengurangi downtime. Dengan kelengkapan legal seperti SIO/SILO dan penerapan SOP K3 yang ketat, PSU memastikan setiap proyek berjalan lebih aman dan efisien.Jadi Anda tidak perlu khawatir lagi akan kelancaran proyek di lapangan. PSU siap hadir memberikan pelayanan yang terbaik dan unit yang lengkap dengan detail katalog berikut ini. Dengan pengalaman sejak 2004, PSU siap membantu proyek Anda berjalan lebih lancar, aman, dan hemat biaya. Untuk konsultasi terkait harga dan cara sewanya, Anda bisa langsung menghubungi kami via WhatsApp 0812-5233-3349 untuk respon cepatnya, atau isi form di website resmi PSU, dan dapatkan solusi sewa alat berat terbaik untuk proyek Anda.

Bagikan Artikel

Picture of PSU Access
PSU Access

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

KATEGORI